Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Inisiator Perjuangan Ide Rakyat (PB INSPIRA) Rizqi Fathul Hakim melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN RI) Prof Arif Satria di Kantor BRIN RI Gedung BJ. Habibie Thamrin Jakarta, Selasa (13/1/2025). Pertemuan ini membahas arah strategis dan tantangan hilirisasi riset serta inovasi nasional.
Rizqi Fathul Hakim yang juga Direktur Cemara Institute di dampingi oleh Presiden PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir periode 2016-2017 Ahmad Baihaqi dan juga Direktur Eksekutif IMPACT (Institute of Monitoring and Policy Analytics Country) Rizky Darmawan. Dialog berlangsung hangat dan substantif, menyoroti komitmen BRIN dalam menjadikan riset sebagai penggerak kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Rizqi Fathul Hakim, menilai langkah kepemimpinan Prof. Arif Satria mencerminkan integritas. “Langkah BRIN di bawah kepemimpinan Prof. Arif Satria patut disupport. Transformasi yang beliau lakukan merupakan sebuah komitmen pembangunan ekosistem riset yang solutif serta mendukung terwujudnya misi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo – Gibran,” ungkapnya.
Pernyataan senada disampaikan Ahmad Baihaqi. Ia menyoroti berbagai inovasi BRIN yang berfokus pada hilirisasi pangan, energi, dan sumber daya. “Fokus ini sangat strategis dan perlu didukung penuh karena menyentuh kebutuhan dasar dan kedaulatan bangsa,” ucapnya.
Dari sisi kebijakan, Rizky Darmawan menambahkan, “Kolaborasi riset yang lintas disiplin dan terintegrasi dengan kebutuhan pasar adalah kunci. Hasilnya harus bisa menjadi dasar kebijakan yang efektif dan berdampak luas.” kata Rizky.
Menerima kunjungan tersebut, Prof Arif Satria menegaskan komitmen BRIN untuk memperkuat peran riset sebagai penggerak utama kedaulatan ekonomi, ketahanan nasional, dan pencapaian Indonesia Emas 2045. “BRIN saat ini tidak hanya berfokus pada hard technology, tetapi juga mendorong riset lintas disiplin, mulai dari sosial, ekonomi, psikologi, politik, lingkungan, hingga keantariksaan dan ketenaganukliran,” jelasnya.
Ia memaparkan arah baru BRIN yang dirancang dalam tiga jalur utama: peningkatan produktivitas UMKM dengan teknologi tepat guna, penguatan industri strategis berbasis teknologi, dan co-development serta reverse engineering untuk alih teknologi.
Strategi hilirisasi akan diperkuat melalui Rumah Inovasi Indonesia, yang difungsikan sebagai hub pertemuan inovator, industri, pendana, dan pemerintah. “Riset sudah banyak. Tantangannya sekarang siapa yang memproduksi dan bagaimana masuk ke pasar. Karena itu BRIN harus dekat dengan market,” tegas Arif.
BRIN aktif mendorong riset pangan masa depan seperti daging analog dan teknologi pengawetan pangan, serta klaster riset kebencanaan untuk teknologi pangan darurat dan penyedia air bersih portabel. “Teknologinya sudah ada, sekarang bagaimana diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas,” ujar Prof. Arif Satria.
Rizqi Fathul Hakim kembali memberikan catatan, “Pendekatan multidisiplin dan penguatan ini penting agar inovasi tumbuh dari akar rumput dan menjawab kebutuhan spesifik pemerintah.” tandas Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Ibn Khaldun Bogor periode 2014-2015 ini.
Di akhir pertemuan, Arif memaparkan proyeksi riset jangka menengah menuju 2030 yang akan fokus pada skala produksi, integrasi teknologi, dan membangun kepercayaan publik, dengan prioritas pada kecerdasan buatan, energi baru, dekarbonisasi, dan teknologi hijau. “Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pertemuan ini menandai komitmen BRIN untuk membangun komunikasi aktif dengan generasi muda, sekaligus menyiapkan fondasi yang lebih kokoh bagi hilirisasi inovasi Indonesia di masa depan.




