Batam – Memasuki tahun 2026, Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Komjen Pol. Suyudi Ario Seto langsung menancapkan komitmen kerjanya dengan melakukan kunjungan kerja ke Batam, Kepulauan Riau. Langkah ini ditempuh sebagai bentuk konkret penguatan koordinasi dan sinergi antar lembaga dalam menghadapi dinamika serta tantangan kejahatan narkotika yang semakin kompleks. Kehadiran petinggi BNN tersebut di wilayah perbatasan mendapat sambutan hangat dan apresiasi dari berbagai elemen masyarakat yang menaruh harapan besar pada pemberantasan narkoba.
Dalam agenda perdana ini, Kepala BNN RI memilih Markas Polda Kepulauan Riau sebagai titik temu strategis dengan Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Safrudin, pada Jumat (16/1/2026). Pertemuan tersebut dihadiri pula oleh jajaran pejabat utama BNN RI dan Kepala BNN Provinsi Kepri, Brigjen Pol Hanny Hidayat. Suasana dialogis antar dua institusi penegak hukum ini mencerminkan tekad bulat untuk memperketat pengawasan di wilayah yang memiliki karakteristik geografis strategis dan berbatasan langsung dengan sejumlah negara tersebut.
Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim menyampaikan apresiasi terhadap langkah proaktif yang diambil oleh Komjen Pol Suyudi Ario Seto. Menurutnya, memilih Kepulauan Riau sebagai kunjungan kerja pertama di tahun baru adalah sinyal yang sangat kuat bahwa prioritas penanganan keamanan nasional, khususnya di sektor perbatasan menjadi perhatian utama. “Kami sangat mengapresiasi langkah strategis Kepala BNN RI yang menjadikan Kepri sebagai destinasi pertama di tahun 2026, ini menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap titik-titik rawan perdagangan narkoba internasional,” ujar Rizqi.
Dalam arahannya, Suyudi menegaskan bahwa posisi geografis Kepulauan Riau yang didominasi wilayah laut terbuka kerap dimanfaatkan jaringan narkoba internasional sebagai jalur penyelundupan. Menghadapi tantangan ini, ia mendorong agar diterapkan hukuman yang keras dan tegas bagi para pelaku sebagai efek jera. Hal ini dinilai penting agar Indonesia tidak terkesan lemah dalam menghadapi kejahatan narkotika, sekaligus menjadi wujud komitmen negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman yang merusak masa depan bangsa.
Suyudi juga menekankan bahwa penanganan kejahatan narkotika tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus berjalan secara linier dan terpadu. Upaya tersebut tidak hanya mengedepankan pemberantasan melalui penegakan hukum, tetapi juga harus diperkuat dengan langkah pencegahan serta rehabilitasi yang komprehensif guna benar-benar memutus mata rantai peredaran gelap narkotika dari hulu ke hilir.
Menanggapi penekanan pada penerapan sanksi tegas dan pendekatan terpadu tersebut, Rizqi Fathul Hakim kembali menegaskan pentingnya konsistensi dalam penegakan hukum. Dia menilai bahwa keberanian memberikan ganjaran setimpal bagi bandar narkoba adalah kunci untuk menekan angka peredaran. “Pernyataan Kepala BNN soal perlunya hukuman tegas adalah langkah yang tepat, karena kriminalitas narkotika lintas negara hanya bisa dihadang dengan ketegasan sinergitas antar instansi seperti yang sedang dibangun saat ini,” tegas Rizqi.
Selain aspek penindakan, Kepala BNN RI juga menyoroti pentingnya pendekatan kemanusiaan melalui program rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan. Ia menegaskan bahwa rehabilitasi bukanlah bentuk keringanan hukuman, melainkan strategi jangka panjang untuk mencegah penyalahgunaan berulang dan memulihkan fungsi sosial individu. Pemberdayaan masyarakat pun menjadi fokus, di mana warga didorong untuk aktif menjaga lingkungan mulai dari lingkup keluarga hingga komunitas.
Suyudi berharap sinergi yang telah terbangun antara BNN dan Polda Kepulauan Riau dapat terus diperkuat dan ditingkatkan. Pihaknya meminta aparat untuk memperketat pengawasan jalur laut, meningkatkan kemampuan intelijen, serta memperkuat koordinasi lintas instansi demi menutup celah-celah yang dimanfaatkan sindikat. “Setiap informasi dan temuan di lapangan harus segera ditindaklanjuti agar jaringan narkoba tidak berkembang,” ujarnya menekankan urgensi kolaborasi.
Menyikapi rangkaian agenda kunjungan ini, Rizqi Fathul Hakim berpesan agar sinergi yang terjalin tidak hanya berhenti pada tingkat rencana strategis, tetapi hingga pada operasionalisasi di lapangan. “Cemara Institute berharap agar momentum penguatan sinergi ini menjadi fondasi untuk operasi gabungan yang lebih masif, karena perang melawan narkoba adalah perang melawan kejahatan luar biasa yang mengancam kedaulatan bangsa,” pungkasnya.




