Cemara Institute Nilai Agenda Riset BRIN Bukan Sekadar Bantuan Darurat, Tapi Solusi Jangka Panjang

Jakarta – Cemara Institute memberikan apresiasi atas langkah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyiapkan agenda riset khusus di lokasi bencana untuk mendukung pemulihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah strategis ini dinilai akan memperkuat fondasi pemulihan ekonomi berbasis data dan inovasi pascabencana.

Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim menyatakan bahwa inisiatif Kepala BRIN, Prof. Arif Satria merupakan respons yang tepat dan berbasis ilmu pengetahuan. “Langkah kepala BRIN menyiapkan agenda riset khusus di lokasi bencana sangat tepat guna mendukung UMKM bangkit. Ini menunjukkan pendekatan pemulihan yang tidak hanya reaktif, tetapi direncanakan dengan fondasi keilmuan yang kuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (30/12/2025).

Komitmen BRIN tersebut disampaikan langsung oleh Arif Satria dalam rapat bersama Kementerian UMKM pada Senin (29/12/2025). Dalam pertemuan itu, BRIN menyatakan kesiapannya untuk turun langsung sebagai bagian dari tim pemulihan. “BRIN siap masuk di tim. Kita di sana sudah menyiapkan agenda riset kebencanaan. Sehingga topik UMKM bisa dikaji BRIN, nanti hasilnya akan dieksekusi oleh Kementerian UMKM,” jelas Arif.

Agenda riset ini merupakan bagian integral dari sinergi BRIN dengan Kementerian UMKM dalam menghadirkan program ‘Klinik UMKM Bangkit’ di daerah terdampak banjir, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Program kolaboratif yang melibatkan berbagai kementerian, korporasi, dan universitas ini dirancang sebagai instrumen strategis untuk mempercepat pemulihan ekonomi pelaku usaha lokal sekaligus memperkuat ekosistem UMKM daerah.

Rizqi Fathul Hakim menambahkan bahwa keberadaan agenda riset khusus akan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan. “Dengan riset, intervensi yang dilakukan tidak sekadar bantuan darurat, melainkan dapat menyentuh akar permasalahan dan menciptakan solusi jangka panjang bagi ketahanan UMKM di wilayah rawan bencana,” paparnya.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Aceh Tamiang akhir pekan lalu, Arif Satria telah melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mengimplementasikan inovasi BRIN berupa Air Siap Minum (Arsinum) untuk penyediaan air bersih. Ia menceritakan, meski wilayah sempat lumpuh, geliat ekonomi kecil mulai terlihat. “Di beberapa titik saya melihat ada orang-orang mulai berjualan sepatu boot, berarti ekonomi mulai muncul,” ujarnya sembali menyoroti aspek psikologis dan sosial masyarakat terdampak.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menekankan bahwa kolaborasi dengan BRIN dan pihak lainnya dalam Klinik UMKM Bangkit ditujukan untuk membantu pemda mengidentifikasi kebutuhan, mendorong pemulihan ekonomi lokal, dan membangun kemitraan. “Kami membutuhkan ide-ide teknokratik dari teman-teman BRIN. Apalagi Mas Arif sebagai mantan rektor, tentu kami harapkan gagasan teknokratiknya untuk memperkuat Klinik UMKM Bangkit, agar program ini benar-benar tepat sasaran dan berdampak,” tutur Maman.

Menutup pernyataannya, Rizqi Fathul Hakim kembali menegaskan bahwa apresiasi Cemara Institute merupakan bentuk dukungan terhadap kebijakan berbasis bukti. “Apresiasi kami adalah bentuk dukungan atas terobosan BRIN mengintegrasikan riset kebencanaan dengan pemulihan ekonomi riil. Ini paradigma baru yang patut didukung semua pihak untuk membangun ketangguhan bangsa,” pungkasnya.

Kolaborasi BRIN dan Kementerian UMKM melalui Klinik UMKM Bangkit, yang diperkuat dengan agenda riset khusus, diharapkan dapat menjadi model efektif untuk percepatan pemulihan yang berbasis data, inovasi, dan ekosistem kolaboratif pascabencana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *