Cemara Institute Nilai Kebijakan BRIN di Bawah Arif Satria Wujudkan Hilirisasi Riset untuk Swasembada Pangan

Jakarta – Cemara Institute memberikan apresiasi kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria atas komitmen dan langkah konkretnya dalam mendorong hilirisasi riset pangan. Peran Aktif ini dinilai sebagai upaya strategis untuk mendukung kebijakan nasional dalam mencapai ketahanan dan kemandirian pangan Sesuai Visi Asta Cita Prabowo-Gibran.

Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim menyatakan bahwa langkah penguatan riset pangan yang diusung BRIN dilakukan demi visi keberlanjutan menuju swasembada pangan yang lebih baik. “Komitmen untuk mengarahkan inovasi dari laboratorium langsung ke aplikasi di lapangan adalah kunci dalam membangun fondasi pangan nasional yang kuat,” ujar Rizqi saat wawancara pada Selasa (06/01/2026).

Apresiasi tersebut disampaikan menyusul kunjungan kerja dan temu sivitas Kepala BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Umar Anggara Jenie, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (2/1/2026). Dalam pertemuan itu, Arif Satria menegaskan pentingnya membangun ekosistem riset yang kuat, meliputi aspek sumber daya manusia, pendanaan, infrastruktur, hingga kolaborasi dengan industri.

“Saya ingin periset berbicara tentang masa depan dan menghadirkan inovasi yang bisa diperjuangkan menjadi kebijakan nasional serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Arif. Ia menekankan bahwa orientasi riset pangan BRIN harus menghasilkan dampak sosial-ekonomi yang nyata, tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata.

Lebih lanjut, Arif menegaskan peran krusial hilirisasi riset dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan nasional, dan penguatan ekonomi. “Kalau teknologi kita dipakai luas oleh masyarakat, manfaatnya akan berlipat. Inilah orientasi riset BRIN, menghasilkan dampak sosial dan ekonomi,” paparnya.

Rizqi Fathul Hakim menambahkan bahwa pendekatan holistik BRIN dalam memperkuat rantai nilai riset patut diapresiasi. “Ketika riset dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan riil industri dan masyarakat sejak awal, proses hilirisasi menjadi lebih terarah dan berdampak luas bagi ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyatakan bahwa seluruh aspirasi dan kebutuhan periset akan ditindaklanjuti melalui penguatan tata kelola. “Aspirasi yang disampaikan hari ini akan dimonitor secara berkelanjutan melalui Pusat Kendali Riset, sehingga kendala riset dapat segera ditangani tanpa menunggu evaluasi jangka panjang,” kata Amarulla.

Rizqi juga menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antar-pemangku kepentingan. “Apresiasi kami juga tertuju pada upaya BRIN membuka ruang kolaborasi yang inklusif. Kemitraan strategis antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri adalah motor penggerak utama inovasi pangan yang adaptif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Dengan penguatan sistem monitoring dan fokus pada output yang berdampak, BRIN dan berbagai pihak diharapkan dapat terus bersinergi mendorong riset pangan yang selaras dengan target strategis nasional, mempercepat terwujudnya kemandirian pangan Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *