IMPACT Puji Komitmen dan Langkah Nyata Mentan Andi Arman Percepat Rehabilitasi Irigasi

Jakarta – Institute of Monitoring and Policy Analytics Country (IMPACT) menyampaikan apresiasi atas komitmen dan langkah nyata Menteri Pertanian Andi Arman Sulaiman dalam mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi nasional. Langkah strategis ini dinilai sebagai fondasi kritis untuk mewujudkan target swasembada pangan Indonesia.

Direktur Eksekutif IMPACT, Rizky Darmawan menyatakan bahwa fokus pemerintah pada pembenahan infrastruktur air membuktikan keseriusan dalam menjalankan agenda pembangunan. “Langkah konkret Menteri Amran dalam rehabilitasi irigasi adalah bukti nyata komitmen untuk mewujudkan Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya di bidang ketahanan pangan,” ujar Darmawan, Senin (5/1/2026).

Apresiasi ini disampaikan menyusul kinerja positif sektor pangan nasional. Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi beras 2025 mencapai 34,79 juta ton dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) diprediksi hingga 3,3 juta ton di awal 2026. Capaian ini tidak lepas dari upaya sistematis memperkuat fondasi produksi, termasuk rehabilitasi irigasi secara masif.

Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan, ketersediaan air irigasi yang terencana dan berkelanjutan merupakan faktor krusial. “Faktor penentu keberhasilan ada pada peningkatan benih dan pupuk, juga dalam ketersediaan air,” kata Amran. Irigasi yang baik memungkinkan petani mengoptimalkan masa tanam, mengurangi risiko gagal panen, dan mendongkrak produktivitas.

Akselerasi rehab irigasi ini mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi. Dirjen Prasana dan Sarana Pertanian Hermanto menjelaskan, Inpres ini menjadi panduan untuk memperbaiki daerah irigasi yang sekitar 60% kondisinya kurang optimal.

“Dengan adanya Inpres ini, pemerintah mempercepat perbaikan infrastruktur irigasi yang vital bagi persawahan,” jelas Hermanto. Capaian tahap pertama rehabilitasi telah mencapai 99,93% dari target 280.880 hektare. Sementara untuk tahap kedua dan ketiga, realisasi juga menunjukkan progres yang signifikan di berbagai segmen jaringan.

Darmawan menilai, implementasi Inpres ini menunjukkan pendekatan pemerintahan yang terstruktur dan terukur. “Target dan realisasi yang transparan dalam rehab irigasi menunjukkan governance yang baik. Ini adalah fondasi tepat untuk membangun kemandirian pangan jangka panjang,” paparnya.

Kesuksesan program ini disebutkan merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian, terutama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta pemerintah daerah. Sinergi ini dinilai kunci dalam menuntaskan pekerjaan skala nasional yang kompleks.

Ke depan, pemerintah berkomitmen melanjutkan dan memperkuat program ini dengan kegiatan pendukung seperti optimalisasi lahan dan cetak sawah baru. Darmawan menutup dengan pernyataan optimis, “IMPACT mendukung penuh langkah berkelanjutan ini. Jika konsisten, swasembada pangan bukan hanya wacana, tetapi keniscayaan yang memperkuat kedaulatan bangsa.”

Dengan demikian, upaya rehabilitasi irigasi yang dipacu Kementan menjadi penanda awal yang kuat bagi transformasi pertanian Indonesia, mendapat pengawasan dan dukungan positif dari pemantau kebijakan seperti IMPACT.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *