Jakarta – Cemara Institute apresiasi kepada Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol. Syahardiantono atas capaian kinerja penyelesaian kasus (crime clearance) yang signifikan oleh Bareskrim Polri sepanjang tahun 2025, yang mencapai angka 94 persen. Capaian ini dinilai sebagai bukti nyata efektivitas penegakan hukum di bawah komandonya.
Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim menyatakan bahwa langkah kongkrit Bareskrim Polri patut diacungi jempol. “Langkah kongkrit Bareskrim Polri di bawah komando Komjen Pol Syahardiantono patut diacungi jempol. Hal ini membuktikan bahwa Bareskrim Polri memiliki kapasitas dan kompetensi yang profesional dalam menyelesaikan berbagai kasus kriminal sepanjang tahun 2025,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, Selasa (30/12/2025).
Apresiasi tersebut merespons pernyataan resmi Kabareskrim dalam Rilis Akhir Tahun 2025 di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Syahardiantono mengungkapkan, dari total 850 kasus yang ditangani Bareskrim Pusat, sebanyak 803 kasus berhasil diselesaikan, menghasilkan persentase crime clearance sebesar 94 persen.
Secara keseluruhan, kinerja Bareskrim beserta jajaran reserse di seluruh wilayah Indonesia pada periode yang sama juga menunjukkan hasil yang solid. Dari total 325.345 kasus kriminal, sebanyak 248.076 kasus berhasil diselesaikan, dengan rata-rata crime clearance nasional sebesar 76,22 persen.
Terdapat tiga Polda yang mencatatkan persentase penyelesaian kasus tertinggi secara nasional, bahkan melampaui 100 persen. “Ini memang ada lebih dari 100 persen karena penyelesaian perkara, di samping kasus yang berjalan, juga menyelesaikan kasus tunggakan di tahun yang lalu,” jelas Syahardiantono. Polda Jawa Timur mencatat 119 persen, diikuti Polda Kalimantan Tengah 109,89 persen, dan Polda Papua 109,71 persen.
Berdasarkan klasifikasi kejahatan, penyelesaian perkara kejahatan konvensional, transnasional, dan terhadap kekayaan negara masing-masing berada di angka 76 persen. Sementara itu, penyelesaian perkara kejahatan berimplikasi kontingensi mencapai angka yang sangat tinggi, yaitu 98 persen.
Rizqi Fathul Hakim menambahkan bahwa capaian ini tidak lepas dari fokus penanganan empat tindak pidana prioritas sesuai visi pemerintah. “Fokus pada penindakan judi online, narkoba, penyelundupan, dan korupsi menunjukkan keselarasan strategi dengan agenda nasional dan komitmen terhadap keamanan publik,” tegasnya.
Keempat prioritas tersebut menunjukkan hasil nyata. Untuk judi online, Bareskrim mengungkap 665 kasus dengan 741 tersangka, menyita aset sekitar Rp1,5 triliun, dan memblokir 231.517 situs. Di bidang narkoba, sebanyak 64.046 tersangka ditangkap dengan barang bukti 590 ton senilai Rp41 triliun, sementara upaya keadilan restoratif diterapkan pada 13.880 kasus.
Pada penindakan korupsi, Kortastipidkor Polri berhasil menyelesaikan 410 kasus dengan 946 tersangka dan menyelamatkan aset negara senilai Rp2,3 triliun. Sementara untuk tindak pidana penyelundupan, ditangani 200 kasus dengan 247 tersangka dan barang bukti senilai Rp30 miliar.
Menyikapi laporan kinerja ini, Rizqi Fathul Hakim menutup dengan harapan agar momentum ini dijaga. “Kami berharap konsistensi dan transparansi ini terus ditingkatkan sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan publik yang lebih kuat terhadap institusi penegak hukum,” pungkasnya. Apresiasi dari lembaga masyarakat ini diharapkan dapat memotivasi terus terjaganya profesionalisme dan akuntabilitas Polri di masa mendatang.




