Tak Sekadar Ibadah, AB2TI Sebut Kurban Polri Intervensi Langsung Penguatan Pangan Nasional

Jakarta – Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) memberikan apresiasi kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas konsistensi penyaluran hewan kurban dalam tiga tahun terakhir (2024–2026). Langkah tersebut dinilai tidak sekadar sebagai ritual keagamaan, melainkan sebuah intervensi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat luas.

Ketua Umum AB2TI, Prof. Dwi Andreas Santosa, menegaskan bahwa akumulasi jumlah hewan kurban yang disalurkan memiliki makna strategis. “Jumlah hewan kurban sapi yang dibagikan secara konsisten dalam tiga tahun ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pangan bergizi,” ujarnya. Menurutnya, kontribusi ini menjadi katalisator dalam mengurangi kesenjangan konsumsi protein antardaerah.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada Idul Adha 2024/1445 H, Polri menyalurkan 8.583 ekor hewan kurban yang terdiri dari 5.209 ekor sapi dan 3.374 ekor kambing. Setahun kemudian, saat Idul Adha 2025/1446 H, angka tersebut meningkat menjadi 9.648 ekor, meliputi 6.169 ekor sapi dan 3.479 ekor kambing. Pada periode itu, Kapolri secara pribadi berkurban 40 ekor sapi dari uang pribadinya, menambah bobot keteladanan dalam kebijakan institusi.

Memasuki Idul Adha 1447 H/2026, konsistensi tetap terjaga. Di lingkungan Mabes Polri saja, total hewan kurban yang dikelola mencapai 637 ekor dengan dominasi 630 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Dari jumlah tersebut, 453 ekor sapi merupakan sumbangan langsung Kapolri. Secara nasional, Polri menebar 8.380 ekor hewan kurban ke seluruh penjuru Tanah Air, menegaskan kehadiran negara di tengah masyarakat melalui semangat “Polri Presisi”.

Prof. Dwi Andreas kembali menyoroti dimensi ketahanan pangan dari distribusi tersebut. “Pembagian hewan kurban oleh Kapolri ini merupakan wujud kepedulian terhadap ketahanan pangan yang bersifat langsung, karena daging kurban didistribusikan hingga ke pelosok negeri, tepat ketika masyarakat membutuhkan asupan gizi tambahan,” tuturnya. Ia menekankan bahwa momentum Idul Adha menjadi saluran efektif untuk menyasar kelompok rentan yang jarang terjangkau program bantuan pangan reguler.

Data ilmiah dan statistik nasional menguatkan urgensi intervensi tersebut. Laporan Badan Pusat Statistik (2025) mencatat konsumsi daging sapi per kapita Indonesia hanya 2,77 kg per tahun, jauh di bawah rekomendasi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yaitu konsumsi daging sapi 6,4 Kg per kapita pertahun. Kajian Gizi dan Pangan Indonesia mengungkap bahwa distribusi daging kurban mampu mendongkrak asupan protein hewani pada keluarga penerima manfaat selama perayaan Idul Adha. Dengan ribuan hewan kurban yang disalurkan setiap tahun, Polri turut mengisi celah konsumsi protein yang selama ini menjadi persoalan struktural ketahanan pangan nasional.

Lebih jauh, Prof. Dwi Andreas memandang langkah ini berdampak sistemik. “Apa yang dilakukan Kapolri memberikan dampak signifikan terhadap pemenuhan pangan dan gizi masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa sinergi antarlembaga dapat menjadi fondasi penguatan ketahanan pangan nasional,” ungkapnya. Pernyataan ini menempatkan peran kepolisian dalam spektrum yang lebih luas, melampaui fungsi keamanan menuju tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Suasana khidmat dan kebersamaan pada Idul Adha 1447 H di Mabes Polri merefleksikan penerapan nyata konsep Polri Presisi yang tidak hanya mengedepankan ketepatan penegakan hukum, tetapi juga kepekaan menyentuh sisi kemanusiaan. Daging kurban yang mengalir ke daerah-daerah menjadi simbol bahwa institusi Polri tumbuh, berjuang, dan hadir sepenuhnya untuk melayani serta mengayomi rakyat, sejalan dengan nilai pengorbanan yang diajarkan dalam ibadah kurban.

Apresiasi dari AB2TI menegaskan pengakuan publik atas langkah terstruktur Polri dalam mengawal ketahanan pangan nasional. Komitmen yang terukur dan berkelanjutan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni keagamaan, melainkan menjadi model kolaborasi antarlembaga untuk menjawab tantangan pemenuhan gizi seimbang bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *